Sentimen
Undefined (0%)
30 Jun 2025 : 19.09
Informasi Tambahan

Institusi: UNAIR, Universitas Airlangga

Kab/Kota: Surabaya

Mahasiswa UNAIR Dalami Riset Mikroplastik di CYCU Taiwan

30 Jun 2025 : 19.09 Views 12

Espos.id Espos.id Jenis Media: News

Mahasiswa UNAIR Dalami Riset Mikroplastik di CYCU Taiwan

Esposin, SURABAYA - Mahasiswi Teknik Lingkungan Universitas Airlangga (UNAIR) berkesempatan merasakan pengalaman internship di Taiwan. Ia adalah Sharon Audrey Evangeline. Sharon berhasil internship melalui program TEEP (Taiwan Experience Education Program). Di sana ia bakal menjalani magang selama tiga bulan.

Ia tepatnya magang di Department of Environmental Engineering, Chung Yuan Christian University (CYCU). Hal ini didasari karena keinginannya melanjutkan studi S2 di luar negeri.

“Jadi motivasiku internship dulu biar bisa tahu kehidupan di sini sebelum aku mau lanjut S2 nya. Sekalian belajar dan menambah pengalaman terkait research di bidang lingkungan,” paparnya.

Pertemuan Sharon dengan CYCU bermula dari kegiatan yang pernah dijalin bersama UNAIR. Ternyata, ia menemukan bahwa UNAIR telah bekerja sama dengan CYCU. Terutama dalam hal ini mahasiswa UNAIR berkesempatan mendapat beasiswa master di CYCU.

Magang di Bidang Mikroplastik 

Sharon menganggap bahwa masalah mikroplastik merupakan sesuatu yang kompleks dan perlu didalami. Sementara Taiwan dalam hal ini menjadi salah satu negara yang telah memiliki teknologi mumpuni dalam mengolah mikroplastik. “So i thought it would be great for me to learn something new here dengan teknologi yang tentunya lebih maju,” ungkapnya.

“Di sini research tentang menghitung seberapa banyak mikroplastik yang bisa ditemukan di sampel udara. Spesifiknya lagi apakah ada perbedaan jumlah mikroplastik saat ada fenomena typhoon di Taiwan,” papar Sharon.

Selama pengalamannya magang, ia merasakan lingkungan akademik yang menyenangkan. Misalnya para profesor di sana sangat membantunya selama internship. Selain itu ia juga masih bisa banyak belajar soal bahasa dan budaya Taiwan. Di sisi lain, ia juga berkesempatan untuk berjejaring dengan banyak mahasiswa internasional lain.

Ia turut mengungkapkan bahwa dirinya punya kesempatan untuk belajar di laboratorium selama 24 jam penuh, termasuk saat weekend. “Jadi mahasiswa bisa bebas melakukan riset di kampus tanpa terbatas waktu. Cuma ya mereka memang punya prinsip yang teguh dalam bertanggung jawab atas apa yg mereka kerjakan,” kata Sharon.

Pelajaran Berharga 

“Pelajaran yang paling berharga adalah belajar how to survive sih. Bagaimana kita bisa mawas diri, berlaku sopan fleksibel mematuhi peraturan yang berlaku di negara ini, bagaimana kita bisa mengatur keuangan juga dari stipend per month,” ungkapnya.

Selain itu, belajar berbahasa asing selain Inggris juga menjadi pengalaman berharga tersendiri bagi Sharon. Sebab, tidak banyak warga lokal yang menguasai bahasa Inggris. Maka ia harus menggunakan bahasa Cina untuk berinteraksi dengan warga lokal.

Just try it. We will never be ready kalau nunggu ready. Kalau takut terus, kita nggak akan berkembang. Kita butuh something that can challenge us untuk keluar dari zona nyaman,” pungkasnya. (NA)

Sentimen: neutral (0%)