Sentimen
Informasi Tambahan
Grup Musik: APRIL
Kab/Kota: Gunung, Kalibata, Blitar, Cipinang
Tokoh Terkait
Sutan Sjahrir yang Mesra dengan Penderitaan, Wafat sebagai Tahanan Politik di Negara yang Diperjuangkannya
Okezone.com
Jenis Media: Nasional

BLITAR - Sjahrir begitu mencintai Indonesia, yakni negara bangsa yang tidak pernah berhenti diperjuangkannya. Andilnya, sama besarnya dengan tokoh-tokoh lainnya seperti Soekarno atau Bung Karno, Bung Hatta, maupun Tan Malaka.
Sehingga, ketika kolonial Belanda memutuskan membuangnya ke Boven Digul, yakni tempat pengasingan yang paling ditakuti para aktivis pergerakan Indonesia, Sjahrir menerima itu dengan kepala tegak.
BACA JUGA:
Di dalam penjara Cipinang 9 Desember 1934 ia ungkapkan sikapnya dalam selembar surat. Bahwa kepentingan bangsa dan negara adalah di atas segala-galanya. Ikatannya dengan bangsa memutus segala susah yang dialaminya.
"Berakhirlah sekarang keragu-raguan dan rasa susah yang kualami selama dua tahun terakhir ini, dan sekarang aku tidak mau dan tidak boleh memikirkannya lagi. Seolah-olah aku diingatkan kepada bangsaku, tatkala kuterima beslit tentang pembuangan itu; diingatkan pada segala sesuatu yang mengikat aku pada nasib dan penderitaan bangsa yang berjuta-juta ini.
BACA JUGA:
Bukankah kesedihan pribadi kita akhirnya hanya sebagian kecil saja dari penderitaan yang besar, yang umum itu? Bukankah justru penderitaan itu merupakan ikatan kita yang semesra-mesranya dan sekuat-kuatnya?
Justru sekarang, pada saat aku barangkali harus berpisah untuk selama-lamanya dengan yang paling kucintai dan yang paling indah bagiku di dunia ini, justru sekarang inilah aku merasa lebih terikat pada bangsaku, aku semakin mencintainya lebih daripada yang sudah-sudah", demikian dikutip dari buku Sutan Sjahrir Demokrat Sejati, Pejuang Kemanusiaan (2010).
Follow Berita Okezone di Google News
Sjahrir lahir di Padang Panjang, Sumatera Barat, yakni di bawah bayangan dua gunung, Merapi dan Singgalang. Ayahnya, Mohamad Rasad seorang jaksa kepala (landraat) di Pengadilan Negeri. Sedangkan ibunya, Poetri Siti Rabiah berasal dari Tapanuli, dari keluarga raja-raja lokal swapraja.
Perawakan Sjahrir yang cenderung pendek dan berbakat gemuk, yakni 160 cm, bersorot mata ramah bersahabat serta suka ketawa lepas, membuatnya mendapat julukan Bung Kecil.
Julukan itu diperoleh saat menjabat Perdana Menteri Indonesia. Sjahrir melihat politik sebagai tanggung jawab yang harus dipikulnya. Sebagai pendiri sekaligus ketua Partai Sosialis Indonesia (PSI/1948), Sjahrir tidak pernah memandang politik sebagai tujuan. Dan bahkan kemerdekaan nasional bukan tujuan akhir politiknya.
Bagi Sjahrir, kemerdekaan nasional hanyalah jalan mewujudkan martabat manusia dan kesejahteraan bagi bangsa. Sedangkan politik hanyalah jalan mencapai kemerdekaan nasional.
“Politik menjadi perkara yang luhur, dan ilmu pengetahuan akan terbuka cakrawalanya seluas kaki langit karena pikiran dan jiwa sanggup menerobos batas-batasnya sendiri”.
Pandangan-pandangan politik, termasuk keengganannya melakukan aksi massa sebagaimana yang dilakukan Soekarno atau yang diusulkan Tan Malaka, yakni menggerakkan rakyat dengan agitasi politik, membuat Sjahrir sulit dimengerti.
Dalam perjalanannya bahkan ia bersimpang jalan dengan Bung Karno, kawan seperjuangan yang sama-sama bercita-cita melepaskan bangsa Indonesia dari belenggu penjajahan.
Sejak awal 1962, Sjahrir menjadi tahanan politik pemerintahan Soekarno, dan hingga meninggal dunia di Swiss 9 April 1966 masih berstatus tahanan politik. Pada 15 April 1966 atau enam hari wafatnya Sjahrir, Presiden Soekarno mengeluarkan dekrit.
Isinya menyatakan Sutan Sjahrir sebagai pahlawan nasional dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata dengan prosesi kenegaraan. Pemakaman jenazah Sjahrir berlangsung 19 April 1966 dengan diiringi pidato perpisahan Bung Hatta.
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis Okezone.com tidak terlibat dalam materi konten ini.
Sentimen: negatif (79%)