Sentimen
Undefined (0%)
30 Agu 2025 : 14.26
Informasi Tambahan

Kab/Kota: Mataram, Yogyakarta

Tokoh Terkait
Sri Sultan Hamengku Buwono X

Sri Sultan Hamengku Buwono X

Makna Gendhing Raja Manggala Saat Sultan Jogja Redakan Demo di Mapolda

30 Agu 2025 : 14.26 Views 1

Espos.id Espos.id Jenis Media: Jogja

Makna Gendhing Raja Manggala Saat Sultan Jogja Redakan Demo di Mapolda

Esposin, JOGJA -- Alunan Gendhing Raja Manggala mengiringi langkah Sri Sultan Hamengku Buwono X saat turun langsung meredakan demonstrasi ricuh di Mapolda DIY. Di balik gending sakral itu, tersimpan makna kepemimpinan yang kuat sekaligus simbol kedekatan Sultan dengan rakyatnya.

Suasana tegang di Mapolda DIY pada Jumat (29/8/2025) malam berubah menjadi penuh haru ketika Sri Sultan Hamengku Buwono X, Raja Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat sekaligus Gubernur DIY, datang menemui massa demonstran.

Yang menarik, kedatangan Sultan HB X diiringi lantunan Gendhing Raja Manggala yang diputar melalui pengeras suara sejak beliau tiba hingga menggelar rapat dengan Kapolda dan menemui peserta aksi.

Sultan hadir bersama putri keduanya GKR Condrokirono, putri keempat GKR Hayu, serta menantunya KPH Yudanegara. Mobil berpelat AB 10 HB yang ditumpangi keluarga Sultan membelah lautan massa yang memenuhi Ring Road depan Mapolda.

“Tolong beri jalan, Ngarso Dalem mau lewat,” teriak salah satu demonstran, menunjukkan penghormatan pada pemimpin mereka.

Makna Gendhing Raja Manggala

Mengutip situs resmi Keraton Jogja, Gendhing Raja Manggala bermakna “pemimpin utama” dan biasanya dimainkan saat Sultan miyos (keluar) untuk menerima tamu kerajaan. Irama ini serupa dengan Gendhing Prabu Mataram yang menggambarkan kewibawaan dan keteguhan seorang raja.

Dengan mengalun di tengah situasi genting, gending tersebut menghadirkan nuansa sakral sekaligus pesan simbolis: Sultan hadir bukan hanya sebagai kepala daerah, tetapi juga sebagai pemimpin budaya yang menenangkan rakyatnya.

Pesan Sultan untuk Demokrasi Damai

Di hadapan ribuan massa aksi, Sultan HB X menyampaikan apresiasinya atas semangat demokrasi warga Yogyakarta. Namun, ia menekankan pentingnya menjauhi kekerasan.

“Saya menghargai apa yang Anda lakukan. Tapi demokratisasi di Yogyakarta harus berlangsung tanpa kekerasan, karena daerah ini tidak punya tradisi menyelesaikan masalah dengan cara kekerasan,” ujar Sultan dilansir dari Antara.

Dalam kesempatan itu, Sultan juga menyampaikan duka cita atas wafatnya Affan Kurniawan, pengemudi ojek online yang meninggal di Jakarta.

Tak hanya memberi nasihat, Sultan turun langsung memastikan delapan pendemo yang sempat diamankan polisi dibebaskan. “Saya kembalikan teman-teman Anda semua kepada saudara-saudara,” katanya disambut riuh tepuk tangan.

Sebelum meninggalkan lokasi, Sultan mengajak massa pulang dan beristirahat. “Mari kita pulang, kita semua sudah capek. Besok bisa kita lanjutkan dengan diskusi,” ujarnya.

Kericuhan Sebelum Sultan Datang

Aksi solidaritas di Mapolda DIY berlangsung sejak Jumat sore. Situasi memanas menjelang malam setelah massa membakar dua mobil, merusak gedung SPKT, mesin ATM, layar videotron, hingga pagar Mapolda. Pos polisi di simpang empat Condongcatur juga tak luput dari amukan massa.

Kerusuhan itu dipicu kemarahan atas meninggalnya Affan Kurniawan di Jakarta, yang tertabrak kendaraan taktis Brimob saat aksi protes.

Kehadiran Sultan HB X dengan iringan Gendhing Raja Manggala menjadi titik balik malam panjang itu, dari kericuhan menuju ketenangan, dari amarah menuju dialog.

Sentimen: neutral (0%)