Sentimen
Netral (84%)
18 Jun 2024 : 18.55
Informasi Tambahan

Kasus: covid-19

Tokoh Terkait

Menteri Kritis di Sektor Industri

18 Jun 2024 : 18.55 Views 8

iNews.id iNews.id Jenis Media: Nasional

Menteri Kritis di Sektor Industri

Didik J Rachbini
Guru Besar Ilmu Ekonomi dan Peneliti Indef

KEMENTERIAN Perindustrian memegang peranan sentral pada masa pemerintahan mendatang dan menentukan apakah pertumbuhan ekonomi bisa mencapai 6 persen atau lebih. Pemerintah saat ini gagal mendorong ekonomi tumbuh di atas 6 persen lantaran sektor industri kurang menggeliat dan bergerak sangat lambat. Ini terjadi karena absennya kebijakan industri dan Kementerian Perindustrian yang dorman.

Selama ini, Kementrian Perindustrian berperan sangat terbatas. Kebijakannya lemah dan tidak bernilai signifikan untuk memajukan sektor industri Tanah Air. Secara terus-menerus, sektor ini tumbuh di bawah 5 persen sehingga tidak punya daya dorong dan tidak mampu mengangkat pertumbuhan ekonomi tinggi. Bahkan, sektor ini justru mandek dengan pertumbuhan 3-4 persen saja, yang menandakan ketiadaan dan kosongnya kebijakan industri.  Industri dimatikan karena kebijakan yang surut dan tidak memberikan kesempatan, ruang, dan dorongan bagi industri nasional.

Jika kebijakan industri terus terjadi seperti selama 1-2 dekade terakhir ini, maka lupakan saja janji presiden terpilih Prabowo Subianto untuk memajukan ekonomi yang tumbuh tinggi bakal bisa tercapai.  Yang terjadi mungkin bahkan sebaliknya, di mana pertumbuhan ekonomi akan selalu di bawah 5 persen karena terseret pertumbuhan industri yang sangat rendah.

Sebagai perbadingan di depan mata adalah pertumbuhan ekonomi yang tinggi selama ini di Vietnam dan India.  Mengapa India dan Vietnam berhasil mendorong pertumbuhan ekonomi tinggi? Jawabnya hanya satu, yakni karena berhasil mendorong industri sebagai lokomotif pertumbuhannya. Sektor industri di India tumbuh dua digit sehingga menarik ekonomi bertumbuh sampai 7 persen. Sebaliknya dua dekade terakhir ini, sektor industri Indonesia hanya tumbuh di bawah 5 persen, sehingga mustahil bisa menarik pertumbuhan ekonomi sampai di atas 6 persen.

Gambar 1: Pertumbuhan ekonomi di India berada di atas 6 persen per tahun, baik sebelum dan sesudah pandemi Covid-19. (Sumber: MoSPI/Reuters/Sumanta Sen)Gambar 2: Pertumbuhan ekonomi di Vietnam berada di atas 6 persen per tahun, baik sebelum dan sesudah pandemi Covid-19.

Mengapa Indonesia selama dua dekade ini gagal mendorong pertumbuhan ekonomi tinggi? Jawabannya sama, yaitu karena gagal menempatkan sektor industri sebagai lokomotif pertumbuhan dan sekaligus karena Kementerian Perindustrian mandek dan mandul dalam menjalankan kebijakan industrinya. Faktor kritis dalam pertumbuhan ekonomi di masa pemerintahan Prabowo nanti terletak di kementrian ini.

Ekonomi Indonesia mengalami stagnasi pertumbuhan 5 persen atau di bawahnya karena bertumpu pada konsumsi dan sektor jasa, yang bercampur dengan sektor informal.  Dengan sektor jasa yang tidak modern dan hanya mengandalkan konsumsi rumah tangga, maka ekonomi kehilangan lokomotifnya, yang pada gilirannya ekonomi bertumbuh rendah atau moderat saja.

Janji kampanye Prabowo pertumbuhan ekonomi akan dipacu sampai 8 persen, akan menjadi suatu target yang hampir mustahil dengan kebijakan pada saat ini dan kementerian yang tidak berbuat banyak untuk menggubah keadaan. Jika ingin berbeda dari pemerintahan sebelumnya, kunci sukses terletak pada sukses aau tidaknya membenahi kementrian industri dan kebijakan industrinya. Tanpa itu, Indonesia akan menjadi underdog di ASEAN.

Editor : Ahmad Islamy Jamil

Sentimen: netral (84.2%)